Informatics/Computer Olympian [Who are they ?]

Berikut adalah artikel yang ditulis oleh Brian Marshal [Bronze Medalist, International Olympiad in Informatics 2007 Croatia, Zagreb] yang dikutip dari blog nya : blog.microbrainx.net

What Olympian Means to Indonesia
Looking back at some recent cases, I still wonder why Indonesia’s government still do not care about its science achievers. A lot of science medalists face a complicated and bureaucratic system to enter the national university. As a matter of fact, this mid-year, about 10-15 students from Indonesian Computing Olympiad Team (TOKI) took Bandung Institute […]

more…


Berikut ini adalah blogpost yang ditulis oleh Petra Novandi Barus, mahasiswa Sekolah Teknik Elektro dan Informatika, Institut Teknologi Bandung [ITB], seperti dikutip dari blognya,Kritik lagi buat ITB.

Kritik lagi buat ITB

Di samping kritik tentang pengamanan ITB selama libur puasa, ternyata ada lagi kritik baru buat sistem penerimaan mahasiswa baru ITB.

Brian wrote

A lot of science medalist facing a complicated and bureaucratic system to enter the national university. As a matter of fact, this mid-year, about 10-15 students from Indonesian Co….

(link)

Isinya mengenai kritik tentang dari penerimaan mahasiswa baru ITB untuk peserta pelatnas 30 Besar Tim Olimpiade Komputer Indonesia 2007 kemarin yang kelas XII….

more…


Berikut ini adalah blogpost yang ditulis oleh Angelina Veni, siswi SMA Kristen 1 BPK Penabur Jakarta Pusat, kelas X – Internasional [Silver Medalist OSN 2007 Informatika/Komputer], seperti dikutip dari blog nya,lennie2nd.wordpress.com

Kapan ?
kapan negara ini akan mulai untuk menghargai pelajar-pelajar yang belajar suatu mata pelajaran berjam-jam, melalui proses seleksi yg panjang dan mengukir prestasi atas nama bangsa?

more…


Berikut ini adalah sebuah artikel yang pernah dimuat di surat kabar KOMPAS, edisi Jumat, 14 Desember 2007. Penulis [Christopher Henry Priyono] adalah seorang siswa SMA Kanisius Jakarta Pusat, kelas XI-IPA, Silver Medalist OSN 2007 Informatika/Komputer.

-Ironisme Pasca OSN-
OSN, yang merupakan kependekan dari Olimpiade Sains Nasional, adalah acara tahunan yang diselenggarakan untuk menyeleksi dan membina para pelajar yang memiliki kemampuan lebih di bidang atau mata pelajaran tertentu sehingga dapat mewakili Indonesia di tingkat internasional.Kebanyakan orang sepertinya akan berpikir, adalah suatu kebahagiaan yang besar untuk dapat menang dan meraih medali dalam OSN ini. Tetapi kenyataannya, di balik semua kebahagiaan itu terselubung kepedihan yang tidak kalah besarnya….

more…


Berikut ini adalah blogpost yang ditulis oleh Anggakara Hendra Nandana, siswa SMA Negeri 16 Surabaya dan juga peserta OSN 2007 Informatika/Komputer, yang meniti prestasinya di bidang komputer sejak tahun 2005 mulai dari nol, secara otodidak dan tanpa perhatian dari pihak sekolah.

….. Lha kalo udah baca. Skarang bandingkan dgn aku…. Si Henry aja yang udah dapet perak, merasa ga diperlakukan adil sama sekolahnya, apalagi aku?!?!…

more…


Nah, sekarang baru tulisan saya sendiri selaku yang punya blog.

Jika diperhatikan, kelima artikel di atas menyuarakan hal yang sama, yaitu sebuah keprihatinan akan ketidakadilan akan perlakuan yang mereka terima setelah apa yang telah mereka lakukan, yang mereka korbankan, yang mereka usahakan mulai dari nol.Jika diperhatikan dengan lebih seksama lagi, kesamaan yang cukup untuk membuat alis kita terangkat adalah, kelima orang tersebut semua berasal dari latar belakang yang sama, yaitu mereka semuanya memiliki minat di bidang komputer.Tambahan lagi, penulis pun juga memiliki background yang sama seperti mereka. [Dan yang juga akan menyuarakan keprihatinan akan ketidakadilan seperti kelima orang di atas]

Mengapa banyak para olimpiader di bidang Informatika/Komputer yang merasakan ketidakadilan yang amat sangat dari pihak sekolah maupun PTN di negara ini ?

Saya pribadi pun merasakan hal tersebut, meskipun mungkin tidak separah yang dirasakan oleh Henry atau Anggakara. Ketidakadilan yang saya rasakan adalah ignorance dari pihak sekolah untuk terus mempertahankan prestasi anak didiknya di ajang OSN di bidang Informatika/Komputer, mereka tidak mau tahu bagaimana murid muridnya bekerja keras untuk mengais-ngais ilmu komputer di mana-mana. Terlebih lagi, mata pelajaran komputer [atau di sekolah-sekolah sekarang ini lebih dikenal dengan sebutan Teknologi Informasi Komunikasi] di tingkat SMU sama sekali tidak mengajarkan tentang komputer.
Oke, mungkin Anda berpikir, “Bukankah di tingkat SMU sudah ada pelajaran bahasa pemrograman Pascal ? Dan bukankah Pascal adalah bahasa pemrograman resmi yang digunakan dalam Olimpiade Sains bidang Informatika/Komputer ?” Jika Anda berpikir seperti itu, maka itu adalah suatu pemikiran yang sangat salah kaprah. Mengapa ? Karena yang mereka [sekolah] ajarkan hanyalah, sekali lagi hanyalah syntax-syntax bahasa Pascal dan bukan esensi dari Informatika/Komputer itu sendiri.

Mereka [sekolah] tidak mengajarkan itu di sekolah !! Yang mereka lakukan hanyalah mendidik anak dengan sistem kurikulum pembelajaran Teknologi Informasi yang sama sekali salah. [Baca : Integrasi TI ke kurikulum Nasional, oleh Onno W. Purbo]
Yang mereka lakukan hanyalah :

    -Bagaimana cara membuat paragraf di Ms. Word
    -Bagaimana cara membuat kotak/lingkaran dengan menggunakan CorelDraw
    -Bagaimana membuat slide baru dalam Ms. Power Point
    -BUATLAH sebuah blog !! –> Paling menjijikkan
    -BUATLAH sebuah milis !! –> Sangat menjijikkan
    -BUATLAH sebuah website di webhosting gratis !! –> Paling menjijikkan juga

Hal-hal tersebut menjadi sangat konyol karena diintegrasikan menjadi sebuah pelajaran Teknologi Informasi di sekolah sekolah. Hal-hal seperti itu bukanlah hal yang PERLU DIPELAJARI DI SEKOLAH apalagi DIJADIKAN SEBAGAI AJANG UNTUK MENGAMBIL NILAI !!

Untuk apa mengajarkan DAN membuat TES TEORI bagaimana membuat paragraf di Ms.Word jika setelah itu mereka[murid-murid] lupa !?!?!?

Untuk apa mengajarkan DAN membuat TES TEORI bagaimana membuat slideshow baru di Ms.Power Point jika setelah itu mereka lupa ?!?!?

Untuk apa mengajarkan DAN membuat TES TEORI bagaimana membuat kotak/lingkaran dengan CorelDraw jika setelah itu mereka lupa ?!?!??!

Untuk apa menyuruh murid MEMBUAT BLOG / MILIS / WEBSITE jika murid hanya perlu MENDAFTARKAN sebuah blog / milis / website dan setelah itu sudah !?!?!? Tak ada follow-up, tak ada feedback, tak ada apa-apa, hanya membiarkan blog/milis/website itu tanpa memanfaatkannya selayaknya sebuah blog/milis/website, mereka hanya perlu mendaftarkannya, mengisinya dengan artikel² konyol,[atau lebih parah lagi, artikel copy-paste] atau mengisinya dengan sebuah tulisan atau bahkan tidak mengisinya sama sekali dan setelah itu ditinggalkan !??!

Untuk apa menyuruh murid MEMBUAT BLOG / MILIS / WEBSITE jika mereka tidak benar-benar mengerti dan menggunakannya sesuai dengan fungsinya !?!?!?

Jika jawaban dari itu semua hanyalah, “Agar mereka TAHU CARA MEMBUAT BLOG / MILIS/ WEBSITE.” Maka itu adalah jawaban paling menjijikkan dan paling mendiskreditkan Ilmu Komputer dan Teknologi Informasi.

Akan jauh lebih baik jika hal tersebut TIDAK dijadikan sebagai OBJEK pelajaran, melainkan SUBJEK untuk menunjang pembelajaran lainnya, jadi TIDAK menggunakan komputer sebagai alat bantu editor teks !! Jika komputer dijadikan sebagai SUBJEK untuk menunjang proses pembelajaran yang lain, jelasnya murid-murid pasti mahir menggunakan Ms. Office TANPA harus disuruh, TANPA harus “MENGHAFALKAN CARA MEMBUAT PARAGRAF, BULLET AND NUMBERING, dll” karena mereka bakal terbiasa dengan LANGSUNG mempraktekkannya untuk kebutuhan mereka, dan bukan mempraktekkannya karena tuntutan untuk mendapatkan nilai. Begitu pula sama halnya dengan CorelDraw, Blog, Milis, Website, dll.

Sungguh sangat mengherankan, kami diberi pelajaran tentang Ms. Word, Ms. PowerPoint, FrontPage, dan sebagainya, tetapi ketika kami menemui suatu keadaan dimana kami perlu menggunakan aplikasi tersebut [untuk membuat laporan percobaan Bio/Fis/Kim misalnya, atau untuk membuat presentasi untuk pelajaran tertentu, atau untuk mengerjakan tugas membuat web seperti yang saya tulis di atas], kami terpaksa tidak dapat memakai fasilitas komputer di lab sekolah karena pada jam pelajaran biasa selalu penuh dipakai untuk pelajaran TIK kelas yang lainnya dan waktu pulang pun, lab komputer seringkali sudah terkunci. Terpaksa kami pun harus pergi ke rental dan atau bersusah-payah menyusun ulang jadwal untuk tugas kelompok menyusun laporan di rumah salah seorang teman, walau sebetulnya, waktu tersebut bisa dihemat dengan langsung mengerjakannya di sekolah dengan menggunakan salah satu fasilitas sekolah yaitu lab komputer.

Ketidakadilan seperti itulah yang sangat saya rasakan. Mereka [sekolah] tidak pernah mau mendengar opini dari muridnya [dalam hal ini saya], dalam hal kurikulum pembelajaran Teknologi Informasi di sekolah. Yang mereka tahu dalam Teknologi Informasi adalah mahir menggunakan komputer yang dalam hal ini ditunjukkan dengan :

    Bisa mengoperasikan Ms.Office
    Bisa mengoperasikan CorelDraw
    PUNYA sebuah BLOG
    PUNYA sebuah MILIS
    PUNYA sebuah website yang dihost di webshoting gratisan

Seperti Anggakara, saya pun berharap bisa berbagi ilmu dan pengalaman yang telah saya dapatkan dengan adik-adik kelas yang memiliki minat dan bakat yang sama. Tetapi perhatian dari sekolah sangatlah minim dan seringkali bahkan tidak sama sekali.

Jika pemimpin-pemimpin negara ini tetap saja memiliki pikiran yang sesempit itu dalam hal Teknologi Informasi, maka mereka pasti akan terus kehilangan para generasi penerus bangsa ini, khususnya dalam bidang Komputer dan Informatika.

13 Responses to “Informatics/Computer Olympian [Who are they ?]”

  1. lennie2nd Says:

    hoho, sabar tim, it’s Indonesia after all :(

  2. mart_ivan Says:

    Melihat semua itu ingin tertawa sendiri.

    Saya memang bukan peserta olimpiade, apalagi medalist. Paling banter mah olimpiade lempar lembing.
    Memang masih sangat ironis melihat perlakuan negara kita terhadap para bibit unggul. Pulang-pulang dari ‘berjuang’ malah diberi ‘hadiah’. Tentu saya tidak merasakan langsung hal tersebut, tapi melihat beberapa teman saya yang mendapat perlakuan ‘istimewa’, bingung juga saya dan timbulah pemikiran mau dibawa ke mana negara ini jika hal sepenting ini(pendidikan adalah pilar pokok dalam kaderisasi generasi bangsa) masih kocar-kacir. Lalu bagaimana? Mau pindah kewarganegaraan??? Pening…

    Menyangkut pelajaran-pelajaran di sekolah, saya nggak ngerti blas tentang komputer dan sebagainya sehingga kalo anda bilang pelajaran di SMU tidak relevan atau apalah, sata tidak bisa bekomentar. Saya sebagai salah satu teman dekat anda(dekat dalam artian jarak) selalu mendapati anda tidak terima dengan gurunya yang notabene selalu memberi tugas yang anda anggap menjijikkan. Yang perlu diingat bahwa guru hanya menjalankan mandat dari atas. Kita juga tidak tahu apakah guru tersebut setuju atau tidak dengan kurikulum tersebut tapi yang jelas kita tahu bahwa sekalipun sang guru menentang, ia tidak bisa melakukan apapun. Untuk itu jika mau menghujat, hujatlah yang di atas, jangan gurunya yang hanya jadi medium untuk menyalurkan progam(‘distributor’). Maafkan jika ada kesalahan karena bagaimanapun juga ilmu saya masih jauh kalah dibandingkan dengan anda. Thanks… Ciaoo

  3. ilcapt Says:

    Hemm… Ya begitulah keadaan Indonesia saat ini. Padahal negara2 yg udah jelas maju aja, Teknologi Informasinya sangat diperhatikan. Indonesia yg malah belum termasuk negara maju, ngrasa TI masih belum perlu mendapat perhatian……

    Kalo gitu, pantes aja banyak orang2 pinter dari Indonesia yang lebih milih buat kerja ato sekolah di luar negeri. Karna emank kehidupan mereka lebih terjamin disana, dan kalo dia tetep milih hidup disini, ya mereka bakal sulit maju… hwehehehe…
    Mungkin beberapa orang ada yg bilang, kalo orang2 yg kerja ato sekolah di luar negeri itu orang yg ga punya rasa nasionalisme. Bah… Kalo menurutku, orang yg bilang gitu cuman orang2 yg iri aja…. Lha mau gimana lagi coba?? Mereka mau hidup di Indonesia, tapi ga ada kesempatan buat ngembangkan potensinya…..

    Hoalah… ga tau lagi deh….

  4. jansonh Says:

    soalnya lho, tim, kita ini diajarin budaya konsumerisme, dgn kata laen, orang laen yg buat program/aplikasinya, trus kita diajari cara makainya… Sama sekali ga da diajarin cara buatnya… begitulah kenyataan hidup…

    lagipula buat apa juga habisin waktu jam pelajaran sekolah buat belajar ms word, padahal buku2 bertebaran mengenai hal itu di toko-toko buku. topik itu mestinya cukup dipelajari dari buku atau autodidak aja uda oke….

    laen halnya dengan logika pemrograman atau algoritma yang kalo cuma baca buku, susah mengertinya – walau bukan tidak mungkin (kecuali otak kita sehebat irvan si ‘lemot’)….

    mestinya kita tidak hanya diajarkan bagaimana pakai ms word, tapi lebih baik lagi bagaimana cara buat ms word… (mungkin berlebihan yah.. hehe)

  5. I really I am proud….with SMA Negeri 2 Kediri [or am I ?] « Hover_Phoenix Says:

    [...] back couple days ago…in my 2 previous posts [here ]….There I wrote something about a task from SMADA Kediri’s ICT [Information and [...]

  6. termasjekek Says:

    huwahahahahahaha
    sakno rek,..
    Yo ngunu kui sekolahan iku,…

    So.. masih suka ama SMA kebanggaanmu..??
    Aku cuman ngeroso, enak wae nang sma kulon kali ngarep brimob, mergo konco akeh,..

    Sistem pendidikan?? whatever aku ga peduli,.. hahahaha

    so,.. keep fight..!!!!!

  7. bejo suranto Says:

    Aku Sendiri Juga Korban…
    Hick..hick… Hua…..aaaaaa

  8. qskywalker Says:

    kita ini terpengaruh konsumerisme….

    diajarkan cara “memakai” bkan berusaha “membuat”. daya kreativitas dimatikan, diganti dengan semua dikte2 yg diberikan guru..membosankan. betul skali!

    orang yg suka ngotek2 kompie dianggap merusak…karena setelahnya komputer itu jadi aneh…tapi dia melakukannya karena rasa ingin tahu…pengen ngerti kenapa bisa gini knapa bs gitu…kalo diginiin jadi apa kalo digituin jadi apa…tapi ujung2nya dimarahin…karena gak mengerjakan tugas komp dr guru (yg dianggapnya membosankan)

    salah satu org itu adl gw…

    mungkin gw ga ahli dalam pemrograman. bs dikatakan sangat tidak ahli, palagi dibandingin ama anak OSN.tp bukan berarti gw menyepelekan IT. menurut gw, IT adalah suatu hal yg menantang, mengagumkan, menyenangkan, menghanyutkan, membantu, sekaligus mengerikan dan membahayakan. ^^

  9. Randy HW Says:

    Saya termasuk yg pernah “dimarahin” swaktu pelajaran komputer di SMA… (diusir malah… hihi)

    Jadi nostalgia kata2 saya dahulu saat SMA:
    (mengenai IT)
    “Karena yang mereka [sekolah] ajarkan hanyalah, sekali lagi hanyalah dan bukan esensi dari Informatika/Komputer itu sendiri.”

    Sewaktu ada “musim pemilihan wakil olimpiade”, “guru” komputer menganggap saya hanyalah murid yg bosan dengan pelajaran komputer. Sembari teman2 sibuk menyalin artikel (buang2 waktu) k kompie, sy justru iseng ganti MS Word di tiap komputer lab dg trojan buatan sendiri. waktu itu ngutik VB 6.0.. habis bosen.
    :)
    btw, sy dulu di SMAN d JakSel.. unggulan tingkat rayon, atau apalah gelarnya skrg.. ga penting.. cuma mau nunjukkin penyakit ini terjadi dimana.

    And since when do we have to use M*CR*S*FT for everything.

    Btw, nice blog, especially the critics for my campus :)
    For me who is already inside, the critics get even worse!
    Anyway, it has great people, tough academics, and most important: fun ^^

    Good luck for you..

  10. Timothy Says:

    @RandyHW:
    Wah, SMA uda bisa bikin virus…keren ya…saya blom tau apa-apa ttg VB e….

    “Karena yang mereka [sekolah] ajarkan hanyalah, sekali lagi hanyalah dan bukan esensi dari Informatika/Komputer itu sendiri.”

    Hanyalah apa itu kak ?

    Trus yg utk kritik untuk ITB itu, itu kritiknya kak Brian, saya blum berani ngekritik apa-apa, wong ya bukan mahasiswa ITB, hehehe…

    Btw, kak Randy, Teknik Elektro ‘04 ya ? Ini aku OL lewat kamarnya kak Widagdo Prasetya.

    NB : kok http://blog.randyhw.com/ nya gak muncul ?

  11. RnD HW Says:

    Hanyalah… seperti yang kamu tulis di posting kamu… (itu kan kutipan) :D

    Saya juga ikut prihatin mengapa apresiasi kurang terhadap siswa2 kita (secara keseluruhan, bukan hanya yg olimpiade). Biaya pendidikan dibuat tidak terjangkau. Menurut saya, pendidikan adalah hak dasar manusia, disamping kesehatan tentunya. Setiap orang tua ingin anaknya sehat, berpengetahuan dan berperilaku baik.

    Masalahnya siswa tidak meminta pengakuan atau penghargaan, tapi ingin diberi kesempatan untuk membangun bangsa. Kalau negeri tetangga bisa menawarkan pendidikan dan pekerjaan yang lebih baik, kapan negara ini mau maju…

    Sebagai contoh, kerajaan Malaysia memberi beasiswa S1 penuh bagi hampir 1000 mahasiswanya setiap tahun ke negeri maju (Jepang, Inggris, Jerman, dll)…. penuh… lebih malah..hehe. Biasanya setelah lulus s1 membeli/membawa pulang mobil ke Malaysia (di Jepang mobil lebih murah, dan memang diijinkan 1 mobil per mahasiswa).. cuma sebagai gambaran “kesejahteraan” Malaysia aja.. not about the car ;) Well, negara Malaysia secara keseluruhan belum merata, tapi setidaknya ada program membangun bangsa yang nyata.

    Saya tahu ini sebab saya berkawan dengan orang Malaysie disini. Ramai betul student Malaysie di Jepun.. :D

    http://scholarships.malaysia-students.com/2008/03/biasiswa-jpa-dan-mara.html

    Iya, saya di EL’04…
    Ooo… dari kediri toh… kalo mudik saya mampir loh… :D

    PS: Blog fixed, thanks :)

  12. RnD HW Says:

    Oiya.. mengenai m*soft, bukan saya ada masalah dengan produk atau penggunanya.

    Tapi menurut saya kita berhak atas kebebasan antara membeli dan tidak membeli. Berarti tidak boleh ada pemaksaan atas pelajaran menggunakan produk komersil.

    Sekolah juga seharusnya lebih mengajarkan berkreasi dibandingkan menghafal. Untuk apa menghafal membuka program Word dengan Start->Programs->MSWord, bila itu mengarahkan pada program trojan ;)


Leave a Reply