Oke, ini lanjutan dari blogpost, yang telah lalu.
@Kapal Ferry
Di atas kapal, keadaannya cukup, yah…menjijikkan. At least untuk saya yang sangat tidak terbiasa dengan sesuatu yang becek-becek (apalagi pake ga’ ada ojyek) dan juga tidak terbiasa mencium bau asinnya air laut yang bercampur bau seperti ikan busuk. Untuk memperburuk keadaan, sewaktu saya berbondong-bondong bersama anak-anak yang lain untuk naik ke dek atas kapal, di ujung tangga yang bawah saya melihat sesuatu organisme berwarna putih yang merupakan fase larva untuk sebagian besar insekta yang dalam Bahasa Indonesia biasa disebut belatung dengan biadabnya menggeliat-geliut di sana. Lengkap sudah…
Untuk menjernihkan pikiran dari hal-hal di atas tersebut, saya bersama beberapa anak lain menuju ke bagian ujung kapal yang terbuka dan cuma dikelilingi oleh pagar biasa. Di situ kami bisa melihat laut dengan lepas (tidak terlalu lepas juga sih karena waktu itu masih subuh sehingga masi agak gelap).
Lama penyeberangan tersebut sekitar 1 jam. Ketika sudah hampir mencapai pelabuhan Gilimanuk di pulau Bali, matahari mulai tampak. Biru laut mulai terlihat, kamera-kamera mulai mengeluarkan suara-suara jepretannya.
Setelah akhirnya kapal merapat, kami pun turun dari dek atas menuju dek bawah melalui tangga yang sama dan menuju parkir dermaga (belatungnya terlupakan), untuk bergabung kembali dengan bus tercinta yang sampai saat ini sudah menjadi kosan kedua kami selama 1 hari. Dengan demikian mulailah ComWis hari ketiga.
Read the rest of this entry »